Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Berujung Bahagia

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga. Pepatah lama yang selalu sukses menghadirkan rasa sakitnya tuh di sini

Sudah jatuh tertimpa tanggaKawan, masih ingatkan dengan pepatah lama ini, sudah jatuh tertimpa tangga. Apa yang dirasakan? Sial kuadrat ya? Atau malah ada nyeletuk, “Hadew.., kelar idup gw.” Hehehe… Sabar kawan. Tarik napas dalam-dalam lalu jangan lupa hembuskan pelan-pelan. Hidup memang seperti itu kawan. Jalannya tak seindah cerita FTV apalagi semulus pahanya Si Cibi (?).

Sebelum galaunya bertambah akut, simak sejenak cerita di bawah yuk… Sapa tau, galaunya berkurang atau malah sirna berganti harapan? Aamiin…!

Prast berlayar keliling dunia dengan kapal pesiar super mewah miliknya

Syahdan, Seorang konglomerat bernama Prast sedang melakukan pelesir laut bersama kolega-koleganya, sesama konglomerat tentu saja. Mereka berencana berkeliling dunia menggunakan kapal pesiar milik Prast.

Semua berjalan dengan luar biasa. Pesta pora dan tawa meriah menghiasi perjalanan yang super mewah itu. Hingga suatu hari, terjadilah badai yang sangat dasyat. Ternyata kapal pesiar tak mampu mengalahkan keganasan amukan badai yang menggila. Dan karamlah kapal itu.

Badai datang menghantam, kapal pun karam. Dan Prast berdo’a mohon diselamatkan

Prast dan seluruh penumpang kapal berusaha mati-matian menyelamatkan diri. Dalam keputus-asaan, Prast berdo’a kepada Tuhan, mohon diselamatkan dari kematian yang mengerikan itu. Badai tetap saja menggila tanpa menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Dan Prast pun pingsan, tak sadarkan diri.

Singkat cerita, pada suatu pagi yang cerah, Prast tersadar. Setelah nanar sebentar, dia menyadari bahwa dirinya telah selamat dan berada di sebuah pantai. Di hadapannya sebuah hutan liar membentang luas. Dia meneliti keadaan sekitar, ternyata terdampar di sebuah pulau asing,liar dan terpencil. Tidak ada kawan yang selamat, hanya dia seorang.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Prast selamat. Seorang diri terasing di pulau terasing

Kegelisahan melanda hatinya. Bagaimana dia akan bertahan hidup seorang diri di pulau yang masih perawan ini? Terbayang segala kemewahan yang dia punyai di kota. Terbayang kekasih-kekasih yang bersedia melakukan apa saja untuk menyenangkan hatinya.

Prast menangis. Dia meratapi nasibnya yang sungguh mengenaskan. Sudah jatuh tertimpa tangga. Rasanya akan lebih baik kalau dirinya mati saja.

Berhari-hari Prast merutuki nasib buruknya. Sampai akhirnya kesadaran mengingatkan dirinya. Percaya meratapi nasib. Dia masih hidup dan harus tetap hidup. Kemudian dia mulai membangun sebuah pondok sederhana untuk tempat tinggal. Diapun mulai berburu untuk menyambung hidupnya.

Entah berapa lama waktu berjalan, Prast sudah tidak lagi memperdulikan sang waktu. Yang pasti, dia mulai dapat menerima dan menikmati keadaannya. Sampai suatu hari, disaat dia tengah mencari hewan buruan, pondoknya terbakar. Awan hitam membumbung tinggi bersama derak pondok yang terbakar musnah.

Pondoknya terbakar habis. Kembali Prast meratapi nasib buruk yang belum juga meninggalkan dirinya

Prast mengamuk marah. Ditendanginya bangkai pondoknya. Dia meratap penuh duka. Kemarahan dan kedukaan membuatnya tak sadarkan diri. Entah berapa lama Prast pingsan. Dia tersadar oleh bunyi keras yang memecah keheningan alam.

Sebuah kapal besar berada tak jauh dari bibir pantai. Nampak beberapa sekoci sedang diturunkan.

Prast tertegun tak percaya. Dia mengucek-ucek matanya beberapa kali. Mencubit kulitnya sendiri hingga memerah. Kali ini dia yakin, kalau dia tidak bermimpi. Ada yang datang untuk menyelamatkannya. Dia bergegas menuju pantai.

“Benar, ada orang di sini?” seru seseorang yang turun di skoci.

Dengan berlinang air mata Prast memeluk orang itu. “Terima kasih… terima kasih..,” tuturnya terbata-bata. “Engkau menyelamatkan aku,”sambung Prast diantara sengal bahagianya.

Orang itu memapah Prast untuk duduk. Beberapa orang memberikan selimut dan air hangat.

“Bapak penumpang kapal Prasetya Arya?,” tanyanya.

“Betul.”

“Alhamdulillah…, sudah hampir sebulan kami berkeliling tanpa arah mencari korban karamnya kapal itu,” jelasnya tanpa diminta. “Ada orang lain bersama bapak?”

Prast menggeleng lemah sambil menyeruput teh hangat.

“Bagaimana bapak bisa menemukan saya?,” Tanya Prast penasaran.

“Kemarin kami melihat asap hitam. Kami mengikuti sumber asap itu dan sampailah kami di sini,” jelas orang itu.

Kapal penyelamat itu dituntun oleh asap hitam yang berasal dari pondoknya yang terbakar

Prast melengak mendengar penjelasan itu. Tubuhnya menggigil penuh haru. Dia bersimpuh dan bersujud memanggil Tuhannya. Bersyukur dan memohon ampun untuk semua sumpah serapah dan prasangka buruknya selama ini. Tuhannya, Alloh, ternyata tengah menyiapkan skenario indah untuk menyelamatkan dirinya.

Dan… tamat kawan. Panjang ya ceritanya? Bagaimana? Masih merasa Alloh tidak adil? Masih menganggap bahwa sudah jatuh ketimpa tangga itu akhir dari segalanya? Berhentilah kawan. Buang jauh-jauh pikiran itu. Seburuk apapun nasib kita saat ini, percayalah. Ada kebahagiaan menanti kita di ujung sana bilamana kita mampu melewati ujian yang Alloh berikan di kehidupan kita.

Tak perduli seburuk apapun nasib kita, seberapa sering kita jatuh lalu tertimpa tangga, selalu ada kebahagiaan menanti kita di ujung sana

Prast

Iklan

Jejaknya sebelah sini ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s