Sang Pemimpi

Bermimpilah. Tak perduli seberapa besar mimpimu, yang terpenting adalah sebesar apa dirimu untuk mimpi itu

Sang PemimpiYup. AKu memang seorang pemimpi besar. Biarpun aku bukan satu dari anak-anak laskar pelangi, karena aku lahir dan tumbuh di jawa. Hehehe… Aku juga bukan duo sang pemimpi yang berjuang menuju Paris. Karena Paris bukanlah bagian dari mimpiku. Lagian, aku telah memupuk mimpiku itu jauh sebelum ada Laskar Pelangi, apalagi Sang Pemimpi.

Aku ingin menemani dan merawat kedua orang tuaku di hari tua mereka sekaliggus membahagiakan keduanya. Mimpi yang sederhana bukan?Boleh… boleh.., silahkan mas bro en mbak sista ketawa. Ga perlu malu-malu. Turunkan saja tangan yang nutupin mulut itu, tertawa aja sekerasnya. Karena aku sendiri teramat sering menertawakan mimpi itu.

Aku ingin menemani dan merawat kedua orang tuaku di hari tua sekaligus membahagiakan keduanya.

Sekilas nampak mudah meraih mimpi itu, tapi menjalaninya sendiri tidak akan semudah membayangkannya. Banyak pernak-pernik terkandung di dalam mimpiku itu. Banyak syarat dan ketentuan yang berlaku di dalamnya. Bahkan hidup yang aku jalanipun lebih mirip dengan roller coster, naik dan turun, melaju teramat cepat dan akan melambat. Namun tetap dalam satu mimpi, mendekat pada dua manusia paling mulia dalam hidupku itu.

Aku tidak pernah berpikir, setiap langkah yang aku ambil akan mengantar ke surga atau neraka. Tapi yang pasti, selalu akan terayun menuju mereka

Pernah aku katakan ingin memboyong mereka berdua, pindah ke tempatku. Namun apa mau dikata, mereka tolak mentah-mentah. Mereka terlampau sayang dengan rumah kami di kampung. Rumah yang mencatat banyak sejarah di kehidupan kami. Perjuangan mereka di kala muda, kelahiran aku dan adik semata wayangku. Tawa dan tangis yang datang silih berganti. Intinya tidak mau pindah. Ketegasan yang merenggut paksa tangan ini dari impianku.

Pernah aku yang bersikeras pulang ke kampung, alternatif termudah yang aku tahu. Ini pun jalan buntu. Mau kerja apa? Aku tidak menyekolahkanmu, menyuruhmu kuliah, untuk menjadi buruh pabrik. Jangan sia-siakan potensimu untuk kami. Dan tamat sudah. Aku kembali menggantungkan mimpi itu.

Lihat tetangga kita, masih banyak yang kesusahan. Masih ada yang kelaparan. Kalo sejauh mata melihat dan sejauh telinga mendengar tak ada lagi manusia yang kelaparan dan kesusahan, boleh kamu berangkatkan kami haji

Pernah aku sampaikan keinginanku untuk menyempurnakan Rukun Islam mereka. Apa yang aku dapat? Ceramah panjang lebar. Beuhh…

Lihat tetangga kita, masih banyak yang kesusahan. Masih ada yang kelaparan. Masih ada rumah gedek (rumah dari anyaman bambu) yang mau rubuh. Santuni mereka. Kalo sejauh mata melihat dan sejauh telinga mendengar tak ada lagi manusia yang kelaparan dan kesusahan, boleh kamu berangkatkan kami haji.

Wassalam… cuma cengiran garing dan beberapa teguk kopi hitam yang menemani menguapnya niatan itu.

Dan inilah aku, Sang Pemimpi, yang masih saja berlari sembari mendekap impian sederhanaku. Berharap, satu saat, aku akan tersesat di jalan yang benar. Jalan untuk meraih impianku itu.

Jagalah mimpimu, maka Tuhan akan menjagakannya untukmu. Dia akan menguatkanmu untuk mewujudkan semua mimpi itu

Prast

Iklan

Jejaknya sebelah sini ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s