Antara Pengadilan Dan Empat Sahabat

Kehidupanku baik-baik saja sampai suatu ketika…

Pengadilan terakhirHidup di dunia memang luar biasa. Apalagi duniaku. Semuanya serba wah dan menyenangkan. Belum lagi, aku di kelilingi sahabat-sahabat yang luar biasa.

Sahabatku A, panggil saja seperti itu, selalu menuruti mauku. Apapun yang ingin aku dapatkan, dia akan selalu menyertaiku. Lalu sahabatku B. bersama dia aku selalu bersenang-senang. Tidak ada kesedihan saat bersama sahabatku yang satu ini. Belum lagi sahabatku C yang selalu berusaha menyenangkan hatiku. Kenikmatan luar biasa ku rasakan bersamanya. Hanya ada satu ganjalan, sahabatku D. Dia itu sangat kuper dan tidak gaul. Sedikit-sedikit jangan, ingin ini itu dilarang-larang. Beuh…!

Hingga suatu ketika, datanglah sebuah panggilan dari pengadilan untukku. Waduh…!!! Tak pernah terpikir sebelumnya. Jangankan membayangkan pengadilan itu, terlintas sedikit sajapun tidak pernah. Dan celakanya, tidak ada negosiasi. Mau tidak mau, aku harus datang ke pengadilan itu. Glekksss…!!!

Bergegas aku menemui sahabatku A. Padanya aku menceritakan tentang panggilan itu. Dan aku katakan terus terang, bahwa aku tidak keberanian menghadapi pengadilan itu seorang diri.

“Maaf bos, gw ga bisa temeni lo. Gw ga bisa dan juga tidak berani,” tolak sahabatku A. Segala rayuanku tak menggoyahkan pendiriannya.

Tak apalah si A menolak, masih ada si B, bisik hatiku dengan tenang.

“Maaf bro, Gw ga bisa. Jangankan menemanimu menghadapi pengadilan lo, mengantar sampai gerbangnya saja gw kagak mampu,” tolak sahabatku B.

Aku mulai panik. Bujukan dan permohonanku tidak menggemingkan ketidak-mampuannya.

Dengan tergesa, aku berlari pada sahabatku C. Padanya aku ceritakan segalanya.

“Maaf Mas, aku akan mengantarmu sampai gerbang pengadilan itu. Tapi aku tidak bisa menemanimu menghadapi pengadilan itu,  sekalipun aku sangat ingin melakukannya,” tutur sahabat C dengan sedih.

Dengan gontai, langkahku terayun pada sahabatku D. Sejujurnya ada keraguan besar aku meminta tolong padanya. Karena aku hampir tidak pernah menyambangi.

Dengan lemah, aku ceritakan masalahku, tentang pengadilan yang harus ku hadapi. Dan jawaban dari sahabatku ini membuat aku membelalakkan mata tak percaya.

“Siap Kawan. Ane akan menemani ente. Tidak hanya mengantarkan sampai pintu gerbang. Tapi ane akan membantu ente menghadapi pengadilan itu,” janjinya meyakinkan.

Aku terharu dan baru menyadari siapa sebenarnya kawan sejatiku di dunia ini. Sayang sudah tidak ada waktu untuk bercengkerama dengannya.

Hanya Iman dan takwa yang akan menemani kita saat dunia sudah bukan lagi tempat kita

Mas bro en mbak sista, sekarang saatnya aku kenalkan nama sahabat-sahabatku. Sahabat A adalah pekerjaanku. Yang B adalah hartaku. Kalau C adalah keluargaku. Dan yang terakhir, sahabat D adalah agamaku. Sedang pengadilan itu adalah kematianku.

Prast

Iklan

Jejaknya sebelah sini ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s