Sejatinya Masalah Terbesar Manusia Ada Pada Dirinya, Bukan Pada Masalahnya

Masalah hiduplah yang sebenarnya membuat hidup lebih hidup

masalah hidupPernah punya masalah mas bro en mbak sista? Sering…? Hahaha…, jangan bersedih. Anda tidak sendiri (sambil nunjuk batang hidungku sendiri. Hikshikss… ). Saya termasuk orang bermasalah, itu kata teman-teman lho ini. Jalan pikiranku sedikit nyeleneh. Dan celakanya, hal ini sering mengundang masalah dalam hidupku. Ntar deh, postingan ke depan, Insyaa Alloh kita berbagi kelucuan. Hahaha…

Seberat apapun masalah kita hari ini, akan tiba saatnya kita akan menceritakannya sambil tertawa

Mas bro en mbak sista bosan mendapatkan masalah? Loncat aja dari monas J. Biarpun ini bukan tanpa resiko lho. Mungkin sedikit beruntung kalo bisa langsung lewat. Penderitaan di dunia selesai seketika, biarpun sejatinya penderitaan panjang di akhirat sudah akan menyambut kehadiran kita.

Lha kalo jadi mati segan hidup tidak mau bagaimana? Kita harus ingat, bahwa kematian itu sudah menjadi ketentuan Alloh. Hitung-hitungan manusia pasti mati, tapi apa yang terjadi bila Alloh berkehendak lain.

Loncat dari monas, hitungan kita pasti lewat. Tapi apa yang terjadi ketika Alloh berkehendak kita hanya patah tangan dan kaki plus tulang belakang?

Pernah mendengar seorang bijak mengajari muridnya tentang sejatinya sebuah masalah? Konon, sang guru memberikan segelas air untuk di minum si murid yang kerap berkeluh kesah hidupnya selalu di rundung masalah. Dan ketika di minum, si murid langsung memuntahkannya kembali. Asin, demikian keluh si murid.

Lalu sang guru mengajak muridnya pergi ke danau yang tidak jauh letaknya dari rumah sang guru. Di danau, sang guru menebarkan sesuatu yang sejak tadi di berada di genggamannya. Kemudian dia menyuruh muridnya meminum air danau itu.

“Segar guru”, ujar si murid sambil minum beberapa teguk lagi. Sang guru.

“Anakku,” kata guru yang selalu memanggil murid-muridnya dengan sebutan anakku. “Tahu apa yang baru aku tebar di danau ini?”

Si Murid menggeleng.

“Kamu tahu apa yang aku masukkan ke dalam gelas yang tadi engkau minum?” tanyanya lagi.

“Garam guru,” jawab si murid pasti.

“Tepat anakku. Yang aku masukkan ke dalam gelasmu adalah garam. Garam jugalah yang barusan aku tebar di danau ini. Sama garamnya dan sama jumlahnya, satu genggam. Tapi terasa olehmu jauh berbeda kan?”

“Pastilah guru. Orang segenggam garam dimasukkan ke dalam gelas. Guru mau nyobain?”

“Hush.. Jangan kurang ajar kamu,” sang guru menegur muridnya. “Justru di situlah kuncinya. Ketika hatimu hanya sebesar gelas tadi, masalah kecil akan selalu berhasil menyakiti hatimu. Jadikanlah hatimu seluas telaga ini, kalo bisa seluas samudera, bisa kau bayangkan masalah apa yang bisa menyakiti dirimu?” terang sang guru panjang lebar.

Tidak ada keadaan yang benar-benar buruk, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya

Si murid terdiam, berusaha mencerna setiap kata dari gurunya.

“Saya mengerti guru. Tapi bagaimana caranya menjadikan hati ini seluas telaga atau samudera sekalian guru?”

“Menerima anakku. Terima saja setiap masalah yang datang menjumpaimu. Dekatkan dirimu pada Alloh, Tuhan Seru Sekalian Alam. Yakinkan dalam hatimu, bahwa Alloh tengah mengujimu. Karena Dia yang mengujimu, Dia pulalah yang akan memampukan dirimu untuk melewatinya.”

Prast

Iklan

4 thoughts on “Sejatinya Masalah Terbesar Manusia Ada Pada Dirinya, Bukan Pada Masalahnya

  1. Hehe yang gue bingung lagi..kenapa ada orang yang suka cari-cari masalah dengan orang lain.. bukannya meringankan dan membantu sbg makhluk sosial 🙂
    tinggal jejak bro..mari saling follow..saya masih pemula di wp

    Suka

Jejaknya sebelah sini ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s