Balada Empat Lilin Kehidupan

Di dalam sebuah gubuk tua, tampak empat buah lilin tengah berkerumun. Mereka adalah lilin-lilin kehidupan. Nyala apinya berpendar tanpa semangat.

Balada Empat Lilin KehidupanMalam sudah sepenuhnya sempurna, saat hujan deras mengguyur bumi. Di dalam sebuah gubuk tua, tampak empat buah lilin tengah berkerumun. Mereka adalah lilin kehidupan. Nyala apinya berpendar tanpa semangat. Pendar cahayanya bergoyang-goyang diterpa angin yang menerabas masuk. Sesekali redup dan sesekali terang.

Suasana begitu senyap. Keputus-asaan membayang jelas di raut wajah mereka. Hujan di luar sana seolah telah memberangus semangat keempat lilin ini.

Dalam temaramnya cahaya, lilin-lilin kehidupan ini berbincang, dari hati ke hati. Tanpa kopi dan kepulan asap rokok apalagi pisang goreng yang pastinya akan menghangatkan suasana. Jelas sebuah pertemuan yang tidak mengenakan.

Manusia sungguh tidak tahu diuntung. Mereka membiarkan kita habis tanpa sedikitpun mengambil manfaat dari pengorbanan kita.

“Manusia sungguh tidak tahu diuntung…,” celetuk salah satu lilin membuyarkan kesunyian yang tengah mereka ratapi bersama.

“Maksudmu?,” tanya lilin satunya lagi.

“Mereka membiarkan kita habis tanpa sedikitpun mengambil manfaat dari pengorbanan kita.”

Terdengar gumaman tidak terlalu jelas membenarkan pendapat temannya itu.

“Jangan berkata seperti itu kawan,” sanggah salah satu lilin dari empat lilin itu. “Mereka hanya terlupa dan aku yakin itu hanya sementara.”

“Sementara bagaimana?,” dengus lilin lainnya lagi kesal. Pengorbanan dirinya yang tulus sepenuh hati telah disia-siakan manusia. “Lihat, kita sudah hampir habis terbakar, namun belum ada satu manusia pun yang mengambil manfaat dari pengorbanan kita ini.”

“Bersabarlah kawan. Kita baru hampir habis bukan.?” Hibur salah satu lilin kehidupan dengan sabar. “ Api kita belum padam.”

Aku adalah lilin Iman. Aku ini lilin yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan akan memuliakan mereka di akhirat kelak. Tapi manusia sudah tidak mau mengenalku lagi. Tidak ada gunanya aku tetap menyala.

“Ahhh.. Sudahlah,” bantah lilin kehidupan yang pertama. “Aku adalah Iman yang akan menyelamatkan manusia di dunia ini dan akan memuliakannya di akhirat kelak. Namun manusia sudah tidak lagi mau mengenalku. Karena itul, tidak ada gunanya lagi aku tetap menyala.”

Dan tanpa dapat dicegah lagi, satu dari empat lilin kehidupan itu, lilin Iman, perlahan padam.

Aku adalah lilin damai. Dan manusia memang tak lagi mampu menjagaku. Mereka sibuk merasa paling benar dan bertengkar karenanya. Mereka lebih suka berperang dan menang daripada menjaga kedamaian. Aku mati saja.

Melihat temannya padam, lilin kehidupan kedua pun berkata, “Aku adalah lilin damai. Dan manusia memang tak lagi mampu menjagaku. Mereka sibuk merasa paling benar dan bertengkar karenanya. Mereka lebih suka berperang dan menang daripada menjaga kedamaian. Aku mati saja.”

Setelah berkata seperti itu, lilin damaipun padam. Tinggallah dua lilin kehidupan yang tersisa.

Aku adalah lilin cinta dan sepertinya tidak ada gunanya lagi aku tetap menyala. Manusia tidak membutuhkanku lagi. Mereka lebih suka membenci daripada saling mencintai.

Dengan sedih, lilin kehidupan ketiga berkata, “Aku adalah lilin cinta dan sepertinya tidak ada gunanya lagi aku tetap menyala. Manusia tidak membutuhkanku lagi. Mereka lebih suka membenci daripada saling mencintai.”

Tanpa menunggu waktu lama, maka padamlah lilin cinta.

Dengan sedih, lilin terakhir dari empat lilin kehidupan itu menyala sendirian. Linangan air matanya tak terbendung lagi. Dalam sendiri, dia menatapi sisa-sisa jasad kawan-kawannya.

Aku lilin harapan. Aku mohon padamu Tuhan, Kirimlah manusia kemari, karena mereka masih sangat membutuhkan kehadiran kami.

“Tuhan, jangan biarkan kawan-kawanku benar. Jangan biarkan kami mati sia-sia,” doa lilin kehidupan keempat dalam keputusasaan. “Kirimlah manusia kemari, karena mereka masih sangat membutuhkan kehadiran kami….”

Tiba-tiba pintu gudang terbuka. Angin besar menerobos masuk nyaris mematikan satu lilin yang tersisa.

Seorang anak masuk dengan tergesa-gesa dan melihat empat lilin itu telah padam tiga.

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian padam,”tuturnya kebingungan. “Jangan mati. Aku mohon. Aku takut kegelapan,” pintanya lirih pada lilin keempat yang masih menyala.

Bocah itupun menangis tersedu-sedu.

Jangan takut dan berhentilah menangis. Aku adalah lilin harapan. Selama aku masih menyala, engkau masih bisa menyalakan kembali lilin-lilin kehidupan yang telah padam.

Dengan terharu, lilin keempatpun berkata, “Jangan takut dan berhentilah menangis anak baik. Aku adalah lilin harapan. Selama aku masih menyala, engkau dapat menyalakan kawan-kawanku itu.”

Dengan mata berbinar, bocah cilik itu mengambil lilin harapan dan menyalakan lagi ketiga lilin lainnya.

Prast

Iklan

Jejaknya sebelah sini ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s